4 Cerita Rakyat dari Aceh (Lengkap) | Cerita Rakyat Nusantara

Dibawah ini adalah beberapa cerita rakyat yang berasal dari daerah Aceh. Ingin tahu apa saja cerita nya? Yuk, simak selengkapnya.


1. Cerita Rakyat Kolang-Kaling


Pada suatu hari ada seekor ayam yang sedang mengais-ngais tanah untuk mendapatkan makanan. Melihat hal tersebut sang pemilik merasa kasihan dan segera mengambil beberapa biji beras lalu memberikannya kepada sang ayam.

Sang ayam tentu saja merasa senang dengan langsung menghampiri pemiliknya dan melupakan makanan yang sedang dicarinya di atas tanah.

Sang pemilik ayam adalah seorang kakek yang bernama Ibrahim atau sering dipanggil Kek Him yang terkenal dengan suaranya yang besar seperti raksasa.

Konon, walau menurutnya ia berbicara dengan suara yang kecil, tapi bagi orang lain suara tersebut dapat membangunkan siapa saja yang sedang tertidur nyenyak.

Kek Him tinggal hanya dengan isterinya saja karena anak-anaknya sudah berkeluarga dan memilih untuk membangun rumah mereka sendiri.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Kek Him beserta isteri beternak hewan, mulai dari kerbau, kambing hingga unggas. Selain itu mereka juga mengolah sebuah kebun kopi yang berada di belakang rumahnya.

Isteri Kek Him bernama Fatimah atau biasa dipanggil Nek Mah. Nek Mah terkenal sangat cerewet, namun pandai sekali dalam mendongeng.

Selain cerewet, Nek Mah juga sering dipanggil Nek Latah karena ia mempunyai kebiasaan latah yang diakibatkan oleh keterkejutannya saat melihat harimau pencuri kambingnya.

Kisah mengenai kelatahan Nek Mah bermula sebagai berikut. Pada suatu malam di dalam kandang milik Nek Mah terdengar suara kambing-kambing mengembik ketakutan.

Berpikir bakal ada yang akan mencuri kambing-kambingnya, Nek Mah segera turun dari rumah panggungnya sambil membawa panyot menuju ke arah kandang kambing.

Namun, baru saja menuruni tangga ia menjadi terkejut dan masuk kembali ke dalam rumah karena melihat jejak kaki harimau.

Keesokan harinya, Kek Him yang mendapat laporan dari Nek Mah langsung ke kandang untuk memeriksa kambing-kambingnya. Ternyata perkataan Nek Mah benar adanya.

Di dalam kandang Kek Him melihat ada seekor kambingnya yang telah mati dengan tubuh yang sudah terkoyak-koyak. Di sekitar kandang juga terdapat jejak-jejak kaki dan bulu harimau. Dan konon, sejak saat itulah Nek Mah menjadi latah.

Sebenarnya kisah mengenai pencurian bagi keluarga Kek Him bukan hanya dilakukan oleh binatang saja (harimau), melainkan juga oleh manusia. Kisah pencurian lainnya yang agak konyol adalah sebagai berikut.

Pada suatu hari anak sulung Kek Him mengadakan acara khitanan bagi anak lelakinya. Karena rumah mereka berjauhan maka sang anak sulung mengajak kedua orang tuanya untuk menginap di rumahnya.

Namun karena tidak ada yang memberi makan ternak-ternaknya Kek Him pun memutuskan untuk kembali lagi ke rumahnya sebelum magrib tiba.

Sambil membawa gulai dan kolang-kaling yang diberikan oleh anaknya Kek Him berjalan pulang melewati jalan setapak yang berliku-liku.

Sesampainya di rumah, ia langsung meletakkan makanan tersebut di dapur lalu berjalan ke arah kandang untuk memberi makan ternak-ternaknya hingga waktu magrib tiba.

Setelah itu Kek Him kembali lagi ke rumahnya untuk mengambil air wudlu sebelum sholat magrib di langgar dekat rumahnya.

Singkat cerita, saat berada di langgar ternyata ada pencuri yang hendak menyatroni rumah Kek Him yang kosong.

Namun hari itu bukanlah hari yang beruntung bagi si pencuri sebab Kek Him ingin segera pulang ke rumah dan menyantap kolang-kaling kesukaannya yang ia taruh di dapur.

Saat telah berada di dalam rumah, tanpa menghiraukan lagi keadaan di sekitarnya Kek Him langsung menuju dapur dan memakan kolang-kaling sambil duduk bersila di atas sebuah tikar pandan.

Sementara si pencuri yang menyadari bahwa si empunya rumah telah pulang segera saja bersembunyi di kolong rumah panggung Kek Him.

Sewaktu makan, karena Kek Him sudah tidak mempunyai gigi lagi, maka kolang-kaling licin itu tidak dapat dikunyahnya.

Ia pun marah pada kolang-kaling yang “berlarian” di dalam mulutnya, “Sialan, mau lari kemana kau! Kalau nanti dapat akan kumakan engkau!”

Mendengar umpatan Kek Him spontan saja si penjuri yang berada di kolong rumah terkejut bukan kepalang. Ia mengira kalau Kek Him yang bersuara sangat keras seperti raksasa telah mengetahui persembunyiannya dan akan menangkap lalu memakannya.

Dengan perasaan yang amat takut si pencuri langsung lari pontang-panting meninggalkan rumah Kek Him tanpa membawa barang hasil curian.


2. Cerita Rakyat Kisah Raja Parakeet


Alkisah, ada seekor raja burung parakeet yang hidup beserta rakyatnya di sebuah hutan di daerah pedalaman Aceh.

Kehidupan sehari-hari mereka sebelumnya berlangsung aman, tenteram, dan damai hingga suatu hari datangah seorang pemburu yang hendak menangkap mereka untuk dijual dagingnya.

Oleh karena ingin mendapatkan burung dalam jumlah banyak, maka sang pemburu menaruh perekat di sekitar sangkar-sangkar milik burung-burung parakeet tersebut.

Hal ini tentu saja membuat para burung menjadi panik. Sayap dan badan mereka lengket dengan sarang yang telah diberi perekat oleh sang pemburu.

Untuk meredakan kepanikan, Sang Raja Parakeet berkata, “Saudara-saudaraku, tenanglah. Ini akibat dari perekat yang dibuat oleh pemburu. Nanti kalau ia datang hendak menangkap kalian, berpura-puralah mati. Nah, kalau mendapati bahwa kita telah mati, maka ia akan langsung membuang kita. Tunggulah sampai hitungan ke seratus, sebelum kita bersama-sama terbang kembali.”

Keesokan harinya, datanglah pemburu tersebut. Setelah melepaskan perekat dan melihat bahwa burung-burung yang tertangkap ternyata seluruhnya tidak bergerak, ia menjadi sangat kecewa.

Ia mengira mereka telah mati karena terlalu lama melekat di sarang. Pemburu itu pun kemudian beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan sarang, ia terpeleset dan terjatuh di tanah.

Hal ini membuat burung-burung menjadi terkejut dan beterbangan hendak menyelamatkan diri. Hanya Raja Parakeet saja yang belum sepenuhnya terlepas dari perekat yang tidak dapat terbang. Ia lalu ditangkap.

Singkat cerita, Raja Parakeet bernegosiasi dengan Sang Pemburu agar ia tidak dibunuh untuk dijual dagingnya. Sebagai imbalannya ia akan selalu menghibur si pemburu dengan cara bernyanyi.

Dan, karena suara si Raja Parakeet ternyata sangat merdu, maka Sang Pemburu menjual suaranya dengan cara mengamen ke tempat-tempat keramaian.

Kabar mengenai kemerduan suara Raja Parakeet akhirnya terdengar pula hingga ke istana raja Aceh. Ia lalu memanggil sang pemburu bersama burungnya ke istananya untuk menghiburnya.

Setelah Raja mendengar suara burung parakeet yang memang sangat merdu itu, ia langsung menawarkan pada sang pemburu agar menukarnya dengan harta benda yang sangat banyak. Sang pemburu pun tertarik dan bersedia menukarnya.

Mulai saat itu Raja Parakeet tinggal di istana raja Aceh. Ia ditempatkan di dalam sebuah sangkar besar yang terbuat dari emas. Di dalam sangkar tersebut selalu saja disediakan makanan yang lezat-lezat.

Namun Raja Parakeet tidak merasa bahagia. Ia selalu saja rindu akan rumah dan kawan-kawannya yang ada di dalam hutan.

Agar dapat bebas dan berkumpul kembali bersama teman-temannya, Raja Parakeet menjalankan siasat yang sama seperti ketika sang pemburu berhasil menangkapnya, yaitu berpura-pura mati. Siasat itu ternyata berhasil.

Sang raja Aceh yang mengira burungnya telah mati segera memerintahkan para pengawalnya untuk mengadakan penguburan.

Dan, pada saat pengawal mengeluarkan “bangkainya” dari dalam sangkar, Sang Raja Parakeet segera terbang keluar dari istana menuju ke tengah hutan untuk berkumpul kembali bersama teman-temannya.


3. Cerita Rakyat Banta Seudang


Alkisah, pada zaman dahulu kala di tanah Aceh ada seorang raja yang memimpin dengan adil dan bijaksana. Dalam menjalankan pemerintahaannya ia selalu didampingi oleh permaisurinya yang tidak hanya berparas sangat cantik, tetapi juga berhati mulia. Mereka hidup berbahagia karena telah dikaruniai seorang anak yang diberi nama Banta Seudang.

Namun, belum genap Banta Seudang berusia satu bulan, tiba-tiba Sang Raja Sakit yang membuat matanya menjadi buta. Seluruh tabib yang dipanggil untuk mengobatinya ternyata tidak ada satu pun yang berhasil.

Hal ini tentu saja membuat gusar Sang Raja karena apabila ia masih tetap buta, maka ia tidak dapat secara penuh memimpin rakyatnya.

Karena khawatir rakyatnya akan terlantar, maka Sang Raja lalu menyerahkan tampuk kekuasaan kepada adiknya dengan catatan apabila Banta Seudang telah dewasa, tampuk kekuasaan tersebut harus diserahkan Banta Seudang.

Rupanya adik Sang Raja sangat jahat. Tak berapa lama setelah kekuasaan diserahkan kepadanya, ia langsung menyuruh Sang Raja dan keluarganya tinggal di sebuah rumah sederhana yang letaknya jauh dari istana.

Sedangkan untuk keperluan hidupnya, setiap hari Sang Raja baru hanya mengirimkan satu tabung beras bersama ikan dan sayuran.

Akibatnya, kehidupan Sang Raja dan keluarganya menjadi kekurangan. Karena tidak pernah bekerja sebelumnya, maka mereka hanya mengandalkan jatah dari Sang Raja baru.

Namun demikian, Sang Raja dan Permaisurinya tetap bersabar. Mereka sangat yakin, bahwa siapa saja yang berbuat jahat, suatu saat nanti pasti akan menerima balasannya.

Singkat cerita, waktu pun terus berlalu. Banta Seudang tumbuh menjadi seorang pemuda tampan yang jujur, peberani, dan sekaligus tahu sopan santun.

Suatu saat, karena tidak tega melihat penderitaan ayahnya, Banta Seudang bertekad akan mencarikan obat bagi kesembuhan mata ayahnya.

Setelah mendapat restu dari kedua orang tuanya, Banta Seudang segera pergi menyusuri lembah, bukit, dan hutan belantara hingga sampai di sebuah masjid yang diimami oleh seorang Aulia.

Selesai sholat Banta Seudang langsung mendekati Sang Aulia untuk menanyakan dimanakah dapat ditemukan obat penyembuh kebutaan bagi ayahandanya.

Dan, Aulia itu menyarankan agar Banta Seudang mengambil bunga bangkawali yang terdapat di sebuah kolah di tengah hutan.

Maka berjalanlah Banta Seudang menuju hutan yang dimaksud oleh Sang Aulia itu. Setelah berjam-jam berjalan di dalam hutan akhirnya Banta Seudang melihat sebuah taman indah dengan sebuah kolam berair jernih yang disampingnya terdapat sebuah gubuk sederhana.

Di dalam gubuk tersebut tinggal seorang tua bernama Mak Toyo yang bertugas sebagai penjaga taman. Sebenarnya, taman itu adalah milik seorang raja yang tinggal di luar hutan.

Sang Raja memiliki tujuh orang puteri berparas cantik yang konon memiliki baju ajaib yang dapat membuat mereka terbang ke angkasa.

Sambil menunggu bunga bengkawali muncul di permukaan kolam, Banta Seudang pun tinggal bersama Mak Toyo. Sebagai balas jasanya ia ikut Mak Toyo merawat taman yang ada di sekitar kolam.

Pada suatu Jumat, pagi-pagi sekali ketujuh puteri raja datang ke kolam untuk mandi.

Selesai mereka mandi, Mak Toyo langsung turun ke kolam dan menepukkan tangannya di atas air sebanyak tiga kali. Beberapa saat kemudian tiba-tiba muncullah bunga bangkawali yang selama ini dicari oleh Banta Seudang.

Bunga bangkawali yang muncul i-tiba itu langsung diambil dan dibawa untuk diserahkan pada Banta Seudang.

Namun, karena telah melihat ketujuh puteri yang cantik jelita, Banta Seudang malah berniat ingin menikahi salah seorang diantaranya. Ia pun meminta izin untuk tetap menginap di gubuk Mak Toyo selama beberapa minggu lagi.

Hari Jumat berikutnya, seperti biasa ketujuh puteri raja datang ke kolam untuk membasuh diri sambil bercengkrama.

Pada saat mereka mandi itulah diam-diam Banta Seudang mencuri salah satu baju terbang mereka yang diletakkan begitu saja di tepi kolam.

Akibatnya, salah seorang dari mereka tidak dapat pulang ke kerajaan. Orang tersebut adalah puteri paling muda atau Si Bungsu.

Akhirnya, Si Bungsu pun terpaksa pulang ke gubuk Mak Toyo. Di gubuk tersebut ia bertemu dengan Banta Seudang lalu keduanya jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.

Beberapa hari setelah perkawinan berlangsung, Banta Seudang mengajak isterinya dan Mak Toyo pergi menemui orang tuanya sekaligus menyerahkan obat untuk kesembuhan ayahandanya.

Kedatangan Banta beserta isteri dan Mak Toyo disambut gembira orang kedua orang tuanya. Sesampai di dalam rumah Banta Seudang lalu merendam bunga bangkawali dalam semangkuk air dan mengusapkannya ke wajah Sang Raja. Tak lama kemudian, Sang Raja dapat melihat kembali seperti sedia kala.

Setelah dapat melihat kembali, Sang Raja pergi ke istananya untuk mengambil kembali tahta kerajaan yang dahulu “dipinjamkan” kepada adiknya.

Beberapa tahun kemudian Sang Raja memberikan tahta kerajaannya kepada Banta Seudang dan sejak saat itu ia memimpin negeri dengan adil dan bijaksana.


4. Cerita Rakyat Hikayat Cabe Rawit


Alkisah, pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami-isteri di sebuah kampung yang jauh dari kota. Keadaan suami-isteri tersebut sangatlah miskin.

Rumah mereka beratap anyaman daun rumbia, lantai hanya berupa tanah yang diratakan, dan di dalamnya hanya ada selembar tikar terbuat dari anyaman daun pandan sebagai tempat untuk beristirahat.

Suatu hari terjadi suatu percakapan serius diantara kedua suami-isteri tersebut. “Isteriku, sebenarnya apa kesalahan kita hingga setua ini belum juga dikaruniai momongan.

Padahal, aku tidak pernah berbuat jahat dengan menipu atau mencuri walau kita kadang tidak mempunyai beras untuk ditanak,” kata sang suami.

“Entahlah, suamiku. Aku juga tidak pernah berbuat jahat dan bahkan selalu rajin beribadah,” jawab sang isteri sambil menahan air mata.

“Mungkin kita kurang berserah diri dalam beribadah. Bagaimana kalau nanti malam kita sholat tahajud sambil memohon agar dikaruniai momongan?”

Tanpa mengiyakan lagi, sang isteri langsung berucap, “Kalau diberi anak, walau sebesar cabe rawit pun akan aku rawat dengan penuh kasih sayang.”

Singkat cerita, beberapa minggu kemudian sang isteri mulai merasakan mual dan sakit pada bagian perutnya karena hamil. Namun, pasangan ini tidak merasa curiga dan menganggap hanya sakit perut biasa.

Dan, karena datangnya sakit tidak berlangsung secara terus-menerus serta kondisi perut yang tidak membengkak seperti layaknya orang hamil, maka sang isteri tetap bekerja seperti biasa membantu suaminya mencari nafkah.

Suatu ketika setelah sholat Subuh sang isteri merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian perutnya. Hal ini membuat suaminya menjadi bingung sekaligus gelisah.

Ia ingin segera membawa isterinya berobat ke tabib atau dukun terdekat, tetapi tidak mempunyai uang sepeser pun untuk membayarnya.

Tidak berapa lama kemudian sakit sang isteri mulai mereda karena telah berhasil melahirkan bayinya dengan selamat. Tetapi betapa terkejutnya mereka ketika melihat kondisi fisik bayi tersebut hanya sebesar cabe rawit.

Sang isteri pun menjadi bersedih hati. Ia tidak mengira kalau bakal melahirkan dan mendapatkan bayi yang ukurannya super mungil.

Untuk menenangkan hati isterinya, sang suami lalu berkata, “Sudahlah isteriku, apapun kondisi bayi ini, dia adalah karunia Ilahi yang harus kita rawat dan jaga.

Masih ingatkah engkau kalau dahulu pernah berkata akan menjaga dan merawat dengan penuh kasih sayang apabila dikaruniai anak walau hanya sebesar cabe rawit?”

Tanpa berkata sepatah pun, sang isteri hanya tersenyum. Sebuah senyum bahagia karena akhirnya dipercaya oleh Tuhan untuk memiliki momongan. Ia telah menjadi seorang ibu. Suatu hal yang selama ini selalu didambakan olehnya dan setiap wanita di dunia ini.

Mulai sejak saat itu, sang bayi yang berjenis kelamin perempuan dirawat dengan penuh kasih sayang hingga remaja. Namun, mungkin karena sudah suratan takdir, tubuhnya tidak tumbuh besar dan tetap seperti cabe rawit.

Walau begitu, ia masih bisa membantu ayahnya bekerja sebagai kuli pengangkut barang di pasar untuk mendapatkan sedikit rezeki.

Suatu ketika, karena terlalu lelah bekerja sang ayah jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sementara sang ibu yang merasa sangat terpukul akan kepergian suami tercintanya, setiap hari kerjanya hanya menangis saja.

Dia sedih sekaligus bingung karena sang suami adalah tulang punggung keluarga. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghidupi diri dan anaknya. Hal itu membuat tubuhnya yang sudah tua semakin rentan terhadap serangan berbagai macam penyakit.

Khawatir akan kesehatan ibunda tercintanya, sang anak yang diberi nama sesuai dengan ukuran tubuhnya yaitu “Cabai Rawit” berinisiatif untuk menggantikan posisi sang ayah sebagai kuli pengangkut barang di pasar. “Saya akan bekerja menggantikan Ayah, Bu,” katanya meminta izin.

“Jangan Nak, nanti kalau kau terpijak orang bagaimana?” sahut sang Ibu.

“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, Bu. Saya sudah biasa membantu Ayah di pasar,” jawab Cabe Rawit singkat.

“Anakku, hanya engkau sekarang satu-satunya orang yang Ibu sayangi. Ibu tidak mau kehilanganmu Nak,” kata sang Ibu.

“Yakinlah kalau semuanya akan baik-baik saja asalkan ibu mau mendoakan saya. Nanti kalau memang ternyata tidak sanggup, Saya akan langsung pulang,” desak Cabe Rawit.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Sang Ibu luluh hatinya. “Baiklah anakku, kalau engkau memaksa. Berhati-hatilah engkau selama bekerja dan jangan terlalu memaksakan diri. Ibu tidak mau hal serupa yang terjadi pada Ayahmu terulang kembali pada dirimu.”

Setelah mendapat restu dari Ibunya, tanpa bekal apapun Cabe Rawit segera berangkat ke pasar. Ketika sampai di sebuah perempatan jalan dia berpapasan dengan seorang pedagang pisang. Karena tubuhnya sangat kecil, sang pedagang tidak melihat sehingga raga pisangnya nyaris mengenai tubuh Cabe Rawit.

“Awas Pak, raga pisangmu hampir mengenai tubuhku,” teriak Cabe Rawit.

Sepontan sang pedagang pisang menghentikan langkahnya sambil celingak-celinguk melihat ke samping dan belakang.

“Awas Pak, raga pisangmu hampir mengenai tubuhku,” teriak Cabe Rawit lagi.

Sang pedagang pisang kembali celingak-celinguk untuk mencari sumber suara tadi. Tetapi tidak ada sesosok manusia pun dijumpainya.

“Raga pisangmu hampir menghimpit tubuhku,” teriak Cabe Rawit kesal.

Sang pedagang pisang yang tetap tidak dapat melihat siapa yang sedang berteriak akhirnya menjadi ketakutan.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung saja ambil langkah seribu dan meninggalkan dagangannya begitu saja karena mengira ada makhluk halus yang ingin mengganggunya.

Dagangan yang ditinggalkan itu lalu diambil oleh Cabe Rawit untuk dibawa pulang ke rumah. Pikirnya, daripada diambil orang atau dimakan hewan ternak, lebih baik pisang-pisang itu ia bawa ke rumah untuk dimakan bersama ibunya sebagai pengganti nasi.

Keesokan harinya ketika berjalan di tempat yang sama Cabe Rawit hampir dilindas oleh seseorang yang sedang bersepeda sambil membawa beras. Karena kaget, Si Cabe Rawit lalu berteriak, “Hati-hati, ban sepedamu dapat menggilas tubuhku!”

Sama seperti pedagang pisang kemarin, orang yang ternyata pedagang beras tersebut langsung menghentikan laju sepedanya sambil celingak-celinguk mencari sumber suara yang didengarnya.

Namun, karena tidak ada orang disekitarnya sang pedagang beras langsung mengayuh sepedanya dengan meninggalkan beberapa karung berasnya agar lebih ringan.

Sepeninggal pedagang beras, Cabe Rawit langsung membawa beras yang ditinggalkan untuk dibawa pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah dia langsung menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. “Tadi di perjalanan menuju pasar saya berpapasan dengan seorang pedagang beras. Waktu itu ban sepedanya hampir saja melindas. Tetapi ketika saya berteriak, dia malah melarikan diri dan meninggalkan berasnya begitu saja. Daripada diambil orang atau dimakan burung, sebagian beras itu saya bawa pulang. Bukankah kita sudah tidak memiliki beras lagi, Bu?”

Hal serupa juga terjadi pada keesokan harinya, namun kali ini dengan seorang pedagang ikan. Dan sama seperti pedagang pisang maupun beras, sang pedagang ikan juga lari tunggang langgang dengan meninggalkan dagangannya begitu saja.

Ikan-ikan itu juga dibawa pulang oleh Cabe Rawit dengan alasan dari pada dimakan kucing atau binatang lain pemakan daging.

Begitulah, setiap hari Cabe Rawit selalu saja berpapasan dengan para pedagang, mulai dari pedagang makanan, pakaian, hingga perhiasan.

Mereka semua ketakutan dan meninggalkan barang dagangannya, sehingga Cabe Rawit selalu membawa pulang berbagai macam barang tanpa harus bekerja sebagai kuli angkut di pasar.

Lama-kelamaan, karena Ibu Cabe Rawit semakin makmur hidupnya, para tetangga menjadi curiga. Mereka mengira kalau Ibu Cabe Rawit melakukan hal-hal yang dilarang agama sehingga membuat dirinya kaya tanpa harus bekerja membanting tulang.

Oleh karena itu, diketuai oleh kepala kampung, para warga berbondong-bondong mendatangi rumah Ibu Cabe Rawit untuk meminta penjelasan.

Setelah bertemu dengan Ibu Cabe Rawit, Sang Kepala Kampung sebagai juru bicara langsung bertanya, “Dari mana engkau mendapatkan kekayaan, padahal tidak bekerja dan tidak ada orang yang memberimu nafkah lagi?”

Ibu Cabe Rawit hanya diam seribu bahasa sehingga Sang Kepala Kampung mengulangi pertanyaannya lagi, “Tolong jawab pertanyaanku agar warga desa di sini tidak curiga terhadapmu.”

Tiba-tiba dari dalah rumah terdengar suara, “Tolong jangan ganggu Ibuku. Kalau kalian ingin menyakiti, sakitilah aku. Ibuku tidak bersalah.”

Orang-orang yang mendengar suara itu sontak terkejut. Mereka hanya mendengar suara namun tidak melihat orangnya sehingga suasana menjadi tegang.

Kecurigaan penduduk semakin bertambah besar sehingga Ibu Cabe Rawit akhirnya menjelaskan suara siapa yang keluar dari dalam rumahnya.

Dia tidak hanya menjelaskan asal muasal Cabe Rawit, tetapi juga bagaimana ia bisa hidup sejahtera selama ini walau tidak bekerja.

Penjelasan itu akhirnya membuat seluruh penduduk mahfum dan berbalik menjadi simpatik. Mereka pun lalu sepakat untuk membuatkan rumah yang lebih layak bagi Cabe Rawit dan ibunya.

Selain itu, mereka juga memberikan segala keperluan untuk hidup sehingga Cabe Rawit tidak perlu lagi pergi ke pasar dan menakuti para pedagang untuk mendapatkan makanan.

Demikian Beberapa Cerita Rakyat dari daerah Aceh. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.